Di Bawah Bayang-Bayang
Waktu terus bergulir. Seperti pikiranku yang terus menjalar. Gundah gulana aku merasakan nuansa. Saat bayangan-bayangan tu terus menjerat pikiranku. Satu demi satu saling mengisi. Satang silih berganti. Memenuhi volume otakku, sampai oksigen tak memiliki ruang yang cukup.
Semakin aku berdiam diri. Beragam pikiran hadir kembali. Seolah tak pernah ada henti. Memenjarakan diriku ini. Satu, dua mungkin masih bisa aku ladeni. Tiga, empat mungkin masih bisa aku atasi. Namun, jika jumlahnya tak terhingga akupun kewalahan menghadapinya.
Entah apa sebenarnya bayangan tersebut. Aku tak tahu maksid dan rujuannya menghampiriku. Keberadaannya tak jelas untuk apa, selain untuk menghancurkan peluh jiwa dan raga ini.
Apakah bayangan itu hadir dengan sendirinya atau memang aku yang memanggilnya? Aku tidak tahu. Seingat ku, aku tak pernah memanggil bayangan. Apalagi dalam jumlah yang tak hingha dan denham tempo yang sesingkat-singkatnya.
Lantas darimana ia datang? Apa gerangan yang menyebabkan ia kemari? Aku butuh jawaban. Aku butuh penjelasan. Sampai saat ini. Sampai akhir menutup mata.
PDL, 11 April 2020
Comments
Post a Comment