Masa Depan Hilang?

Aku ingat bagaimana seorang teman bercerita tentang keraguannya menatap masa depan. Dalam pandangannya, masa depan terhalang oleh suatu tembok tinggi, lebar dan besar. Ia tidak bisa melangkah maju ke depan. Yang ia bisa lakukan hanya berada di titik tersebut atau kembali ke belakang. Ia tidak sendiri menatap tembok tersebut. Disampingnya berjejer orang-orang yang –menurutnya- memiliki perasaan yang sama, ragu atas masa depannya.

Wajah mereka terlihat murung. Tidak ada garis senyum di wajahnya, barang sedetik pun. Tatapannya kosong, memandang tembok di depannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Mungkin cara-cara memanjat tembok atau bisa jadi cara-cara meruntuhkannya. Sebab, pikiran itu pernah ada di otaknya.

Ceritanya sudah lama aku dengar. Dulu saat aku berjumpa dengannya dia terlihat seperti orang-orang yang berjejer bersamanya. Murung, kosong, seolah tanpa ada harapan. Aku tidak banyak bicara. Kukira ini waktunya untuk menjadi pendengar yang baik dan saksama.

Kini aku belum mengetahui kabarnya. Apakah tembok masih menghalanginya atau ia berhasil melewatinya dengan memanjat ataupun meruntuhkannya. Yang aku tahu hari ini adalah apa yang ia ceritakan sedang aku alami. Sebuah titik di mana masa depan seolah hilang. Bukan saja dihalangi oleh tembok, tapi ia tidak ada. 

Setidaknya jika masa depan terhalang maka penghalangnya bisa diusahakan untuk dihilangkan. Namun, apabila masa depan sudah hilang, apa yang akan dihilangkan untuk menggapai masa depan?

Orang-orang yang bertemu denganku mengatakan bahwa garis-garis wajahku begitu lesu. Tidak seperti sebelumnya. Senyum yang biasa terpancar kini sudah hilang. Semangat yang menggebu-gebu redup seiring berjalannya waktu. Tatapanku kosong, entah apa yang aku lihat, katanya.

Perasaan itu kian hari kian bertumbuh. Semakin subur, akarnya semakin menghujam kedalam. Batangnya kokoh menopang dedaunan yang rimbun. Perasaan yang semakin subur dan tumbuh. Kalau saja yang seperti itu adalah kondisi hutan di Indonesia mungkin bagus. Tapi perasaan yang tumbuh dalam diriku ini tidak menampakan kebagusannya. 

Perasaan itu justru menggerogoti perasaanku yang lain. Seperti sawit yang banyak ditanam dan tumbuh, yang banyak menyerap air tapi tidak berdampak baik bagi lingkungan sekitar. Warga sulit mendapatkan air bersih, produksi oksigen berkurang drastis, kekeringan terjadi sepanjang tahun. 

Meskipun sawit itu tumbuh dan berkembang luas, tapi warga menjadi korban pertama dari industri tersebut. Mungkin itulah gambaran perasaan yang tumbuh dalam diriku. Ia tumbuh besar bukan memberikan manfaat, justru ia hadir sebagai penampung kekalutan, keputusasaan, dan beragam perasaan lain yang menghilangkan masa depan.

Satu-satunya ketenangan yang aku dapat adalah saat tertidur. Aku tidak memiliki perasaan dan pikiran kalut. Beda halnya jika aku terjaga, perasaan dan pikiran tersebut kian merong-rong. Itu semakin menjadi-jadi jika aku dalam kesendirian. Tidak ada teman, tidak ada hal yang dilakukan. Yang aku lakukan saat hal itu terjadi adalah memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam. Menghembuskannya kembali perlahan, merasakan setiap sirkulasi oksigen dan karbondioksida yang hilir mudik.

Sejak itu, saat masa depan hilang, dunia bergerak dalam rona yang kelabu. Semua hal yang ada di dalamnya terlihat buram. Sama seperti situasi saat lagu “Peradaban” di putar, maka dunia seperti memerah. Masa depan yang hilang membuat dunia kelabu dan buram.



PDL, 28 April 2020

Comments

Popular posts from this blog

Fitur Unggulan Ponsel

Asep, Kopi dan Rokok

Jangkrik