Mengembalikan Ingatan: Pura-Pura Tidur Siang
Aku heran mengapa anak kecil hampir selalu untuk disuruh tidur siang. Setidaknya itu yang aku alami dulu. Aku ingat bagaimana orang tua, khususnya ibu, yang senantiasa menyuruhku untuk tidur di siang hari. padahal rasa kantuk tidak datang pada diriku saat itu. Keinginan untuk bermain lebih besar daripada panggilan untuk tidur.
Jam satu atau dua siang menjadi jam yang begitu mengerikan bagiku. Karena di jam-jam itu lah biasanya aku mendapat perintah untuk tidur. Biasanya pintu keluar akan dikunci juga aku tidak mau tidur siang.
Akhirnya dengan rasa malas yang begitu tinggi aku pergi ke kamar dan berbaring. Jika rasa ingin bermain sangat tinggi maka yang aku lakukan adalah pura-pura tidur dengan memejamkan mata. Berharap waktu segera berlalu dan aku bisa pergi keluar untuk bermain. Tapi kadang juga aku tidur dengan sendirinya. Meskipun pada awalnya tidak menginginkan untuk tidur.
Saat aku pura-pura tertidur, dengan memejamkan mata atau hanya sekedar menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh, pikiranku terbang melayang-layang. Memikirkan raga ku yang sedang kejar-kejaran bersama teman-teman, di gang-gang kampung atau di berlarian di pematang sawah. Atau bermain di bawah menara SUTET yang berdiri menjulang ditengah sawah.
Berpura-pura tidur sungguh kegiatan yang mengesalkan. Misal saat ibuku masuk ke kamar aku harus pura-pura berada pada posisi tidur. Dengan mata terpejam, posisi seperti orang tidur, semuanya aku atur hingga menyerupai orang yang sedang sebenar-benarnya tidur. Itu hal yang melelahkan.
Jika tidak ada orang dikamar aku bisa leluasa membuka mata kembali dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, aku tetap harus waspada, jikalau tiba-tiba ada orang masuk, maka aku harus siap untuk kembali berada dalam posisi tidur.
Pura-pura tidur biasanya memakan waaktu antara satu hingga dua jam. Untuk memudahkan perhitungan waktu, biasanya aku menggunakan suara adzan ashar. Jika suara itu telah muncul maka biasanya aku bersiap untuk pura-pura terbangun dari tidur.
Membuka mata, perlahan bangun dari posisi tidur, duduk di kasur, mulai berjalan ke pintu kamar, berdiam diri di pintu sambil bersender, dengan muka yang seolah baru bangun tidur, dengan menggeliat aku menunjukan diriku seolah baru terbangun dari tidur, tatapan kosong, menyiratkan nyawa yang belum berkumpul dengan sempurna. Walaupun otakku saat itu sudah berada di sawah, bermain layangan, berlarian dan lain-lain. Tapi, aku harus menahannya, karena aku seolah baru bangun dari tidur.
Jika sudah beberapa waktu aku bangun dan duduk dikursi, menunjukan mimik yang mulai segar, disitulah aku mulai bisa melancarkan aksi selanjutnya untuk bermain. Namun, lagi-lagi aku harus terjegal tatkala ibuku menyuruhku untuk mandi terlebih dahulu.
Setidaknya kenangan berpura-pura tidur adalah pengalaman yang membekas dalam hidupku. Sejak kecil aku sudah mengenal rasanya berpura-pura. Dan suatu hal yang dilakukan dengan kepura-puraan memang tidak akan pernah menyenangkan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa ia bahagai dan senang. Maka, dapat aku pastikan bahwa kebahagiaan dan kesenangan yang ia dapat dari berpura-pura itu adalah palsu, kosong, tak bermakna.
PDL, 13 April 2020
Comments
Post a Comment