Seorang pemahat yang sedang menyelesaikan karya handmade- nya. Sumber gambar: balikami.com Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sampai saat ini terus meningkat signifikan. Kemudahan akses kedalam dunia tanpa batas kini hampir bisa dirasakan oleh setiap orang . Hal tersebut berdampak pula pada dunia perdagangan. Dulu kegiatan produksi merupakan kegiatan padat karya, artinya bahwa kegiatan produksi tersebut memerlukan banyak tenaga manusia yang berdampak pada produktifitas angkatan kerja yang ada, sehinga meminimalisir tingkat pengangguran Namun, seiring berjalannya waktu dengan tingkat permintaan yang terus meningkat menyebabkan tenaga-tenaga manusia harus tergantikan oleh tenaga-tenaga mesin yang memang dari segi kuantitas produk yang dihasilkan jauh lebih banyak . Dengan begitu perusahaan bisa menekan biaya produksi dari pembayaran gaji pegawainya. Akibatnya dengan bergantinya tenaga manusia menjadi tenaga mesin itu menyababkan pengangguran terbuka kembali me...
Sumber gambar: Dok. Pribadi “ Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya”. Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau Ia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang di akibatkannya (Al-Hujwiri). Sesuatu yang memerlukan pembelaan hakikatnya sesuatu tersebut memiliki kekurangan. Sehingga memerlukan tambahan berupa pembelaan agar kekurangannya dapat diatasi. Pun begitu ketika kita membela Tuhan, berarti kita menganggap bahwa Tuhan memiliki kekurangan yang perlu kita bela. Tuhan Tidak Perli Dibela merupakan kumpulan tulisan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang tersebar di med...
Dokumentasi Pribadi Kali ini aku baru selesai membaca sebuah buku yang ditulis oleh dua orang, yakni Sujiwo Tejo dan M. Nursamad Kamba. Judul bukunya cukup 'provokatif': Tuhan Maha Asyik. Ada orang yang mengatakan "Tidak ada asyik dalam 99 nama Tuhan!!!" Ya boleh-boleh saja. Toh, Tuhan pun masih asyik, Ia tidak perlu mendapat 'pembelaan' dari mahkluk-Nya. Disini Tuhan dibicarakan seasyik mungkin, tanpa ketegangan. Tuhan disampaikan melalui kisah-kisah Buchori, Samin, Pangestu, Parwati, Christine, Dharma, Bu Guru, Pak Guru, Orang tua masing-masing, penjual bakso, dan tokoh lainnya. Mereka membicarakan Tuhan seasyik mereka bermain. Setiap kisah memiliki padanan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan. Kisah tersebut menjadi analogi bagaimana pesan inti yang ingin disampaikan. Bukan saja melulu soal doktrin tentang agama. Tapi melebihi itu, melintasi paradigma berpikir yang kebanyakan orang 'beragama' anut. Kisah "Way...
Comments
Post a Comment