Posts

Masa Depan Hilang?

Aku ingat bagaimana seorang teman bercerita tentang keraguannya menatap masa depan. Dalam pandangannya, masa depan terhalang oleh suatu tembok tinggi, lebar dan besar. Ia tidak bisa melangkah maju ke depan. Yang ia bisa lakukan hanya berada di titik tersebut atau kembali ke belakang. Ia tidak sendiri menatap tembok tersebut. Disampingnya berjejer orang-orang yang –menurutnya- memiliki perasaan yang sama, ragu atas masa depannya. Wajah mereka terlihat murung. Tidak ada garis senyum di wajahnya, barang sedetik pun. Tatapannya kosong, memandang tembok di depannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Mungkin cara-cara memanjat tembok atau bisa jadi cara-cara meruntuhkannya. Sebab, pikiran itu pernah ada di otaknya. Ceritanya sudah lama aku dengar. Dulu saat aku berjumpa dengannya dia terlihat seperti orang-orang yang berjejer bersamanya. Murung, kosong, seolah tanpa ada harapan. Aku tidak banyak bicara. Kukira ini waktunya untuk menjadi pendengar yang baik dan saksama. Kini aku bel...

Ihwal Kritik

Demokrasi memberi ruang bagi masyarakat untuk senantiasa menyuarakan aspirasi dan tuntutan. Hal itu menjadi salah satu pilar dalam menjaga demokrasi. Runtuhnya satu pilar akan membawa demokrasi ke jurang otoritarianisme. Sebuah situasi dimana masyarakat tidak berkutik dalam jalannya negara. Semua aspek diatur oleh negara dan kebenaran menjadi produk yang dikeluarkan olehnya. Budaya kritik menjadi jalan dalam tumbuh kembangnya budaya demokrasi. Kritik menjadi indikator dalam melihat hubungan antara rakyat dan penguasa. Kritik menjadi pengurai dari setiap persoalan negara yang tidak bisa dilakukan negara. Atau kritik pun menjadi pengurai atas persoalan yang dibuat dan ditimbulkan oleh negara.  Namun demikian kritik kadang kala dianggap sebagai benalu bagi penguasa beserta gerombolannya. Kritik menjadi sebuah objek yang harus disingkirkan. Dan orang yang mengutarakan kritik menjadi subjek yang perlu untuk dibatasi gerak-geriknya. Pengalaman di masa lalu –seperti Marsinah, Wiji Thukul,...

Mengembalikan Ingatan: Menjadi Bagian Coconut

Berwibawa, gagah, keren, mungkin beberapa alasan sejak SD aku nyemplung menjadi bagian dari gerakan yang dirintis oleh Lord Baden Powell. Orang Inggris yang dianggap pahlawan di negaranya, namun tidak di negara-negara afrika. Di Indonesia gerakan tersebut menjelma bernama Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka). Aku sendiri tidak mengetahui sampai saat ini maksud dari adanya gerakan itu. Meskipun sejak SD aku sudah beberapa kali menjadi Pemimpin Regu, Komandan Peleton, Pratama Putra dan ‘jabatan’ lainnya. Gerakan ini terkenal dengan lambang tunas kelapa nya. Ya, simbol tunas kelapa dipilih sebab ia bisa tumbuh dimana saja dalam kondisi apa saja. Sehingga para pegiat di gerakan ini harus bisa menjadi apa saja, di mana saja, kapan saja, dan bagaimana pun kondisinya ia harus tetap ‘kuat’ seperti tunas kelapa. Sebuah filosofi yang membumi. Setidaknya itu yang aku ingat sampai sekarang. Perjalanan ku berada di lingkaran gerakan ini terus berlanjut hingga SMP. Motivasi makin bertambah tatkala m...

Catatan Perpanjangan

Kalau saja masa berlaku Surat Izin Mengemudi (SIM) tidak lima tahun sekali, maka aku tidak perlu untuk datamg ke Polres. Tapi itu semua tidak ada, aku harus tetap pergi ke polres, selama masih membutuhkan surat yang berbentuk kartu tersebut. Pertama datang dan memarkirkan motor di parkiran polres, seorang bapak sudah menghampiri –sepertinya ia petugas parkir- lantas bertanya “Ada yang bisa dibantu pak? Bikin baru atau perpanjang?” “Perpanjang,” jawabku singkat. Lantas ia pun kembali ke tempat ia duduk semula. Tak berselang lama aku berjalan untuk ‘membeli kertas’. Ya, yang terjadi adalah kita membeli selembar kertas berukuran kurang lebih A5 yang katanya ‘surat dokter’ sebagai bentuk sudah melakukan cek kesehatan. Selembar kertas yang saya kira tidak berguna sama sekali. Tapi yang lebih tidak berguna adalah saya sendiri, sebab masih tetap saja membelinya. Bodoh memang. Setelah kertas seharga 40 ribu tersebut selesai aku dapat, aku kembali ke bagian pendaftaran dan memasukan persyaratan...

Tak Berarti

Kini kau mati dengan seribu ambisi Kepedihan menyelimuti dan mengoyak sanubari Hidup seolah tak berarti semua seakan mati Lalu kau pergi meninggalkan jejak di hati Jejak semakin jelas jiwaku habis terkuras Kau bisa hidup bebas tanpa perlu memelas PDL, 20 April 2020

Mengembalikan Ingatan: Kemanusiaan

Ada hal menarik yang saya dapat setelah membaca buki Berislam dengan Akal Sehat karya Edi AH Iyubenu. Ialah "hukum semua ibadah adalah haram, kecuali ada perintahNya, hukum semua kegiatan kemanusiaan adalah halal, kecuali ada laranganNya" menjadi poin yang cukup berkesan bagi saya. Dari pernyataan itu saya jadi ingat apa yang pernah saya lakukan di masa silam. Dimana kala itu saya memilih untuk ikut diam dalam kegiatan kemanusiaan. Sebab, setiap hal yang saya ikuti harus sesuai dengan 'arahan' ulil amri.  Ya, memang saya pernah 'kecemplung' dalam suatu pemahaman demikian. Pemahaman yang eksklusif yang menganggap semua yang diluar salah dan yang berasal dari dalam benar. Selain beragama secara buta -melalui 'arahan' pemimpin itu- saya pun tidak mencoba untuk menggali hal baru yang berkembang di masyarakat. Doktrin 'dengar dan ikuti apa yang berasal dari dalam' seolah menjadi sekat bagi saya untuk melihat dunia luar. Setidaknya ingatan ini menjad...

Pagebluk

Coronavirus disease 19 (COVID-19)   menjadi momok menakutkan saat ini. Hampir di seluruh dunia sebaran virus ini terjadi. Setiap hari angkanya terus bertambah -kearah yang buruk maupun yang baik- seakan belum menemui titik akhirnya. Memang dibeberapa negara mulai berkurang bahkan angka nya nyaris nol, seperti Tiongkok, Vietnam, Kuba. Tapi mayoritas diseluruh dunia angkanya terus bertambah dan kurvanya semakin curam, Indonesia menjadi negara yang mengalami lonjakan yang cukup drastis dibandingkan negara-negara di ASEAN. COVID-19 ini menjadi pagebluk yang penyebarannya menjadi yang tertinggi, tercepat dan terluas dibanding virus lain yang pernah mewabah. MERS yang pertama kali ditemukan di Arab Saudi tahun 2012, SARS di Tiongkok rahun 2002, bahkan Black Death yang pertama terjadi di eropa abad ke-14 dan menyebar ke seantero dunia merupakan beberapa contoh pagebluk yang pernah terjadi sebelumnya. Perkembangan teknologi mutakhir setidaknya memberi sumbangsih yang begitu besar dalam pe...

Diskusi Dalam Jaringan

Ia sedang duduk di kursi santai di teras rumahnya sebelum pemberitahuan pesan whatsapp bermunculan. Lantas ia segera mengambil ponsel yang disimpan di meja kecil di samping kanan kursi tersebut. Dilihatnya pesan tersebut muncul dari salah satu grup, rupanya kegiatan diskusi dalam jaringan akan segera dimulai. Diskusi dalam jaringan ini sudah mulai di lakukan beberapa kali selama masa #diruhamaja. Kali ini tema diskusi akan membahas tentang Islam dan Perubahan Sosial. merasa dirinya tidak memiliki kompetensi dalam hal tersebut ia memutuskan untuk tidak banyak bersuara, setidaknya ia akan menjadi pembaca dari teks-teks yang muncul di layar. Moderator membuka kegiatan diskusi dengan mempersilahkan kedua pemantik untuk bergantian menyampaikan pandangan awal terhadap tema yang ada. Setelah itu, baru para peserta diskusi yang ada di dalam grup tersebut diperkenankan menanggapi. Dari total 55 anggota grup whatsapp tersebut yang terlibat aktif hanya segelintir, moderator, dua pemantik, dan sek...

Barista di Bulan Purnama

Aku masih ingat. Malam itu, aku duduk di sebuah tempat kopi tua, tempat ini cukup terpencil, berada di sudut sebuah jalan di pinggiran kota. Orang yang baru tinggal di kota ini pasti tidak akan mengetahui tempat ini. Aku pun demikian, di tahun ketiga aku tinggal disini, aku baru mengetahui tempat ini. Katanya tempat ini sudah berusia lebih dari dua abad. Begitu keterangan yang aku dapatkan dari si empunya tempat. Hampir setiap kamis malam aku mampir ke tempat ini. Sekedar minum kopi ataupun hanya berbincang dengan barista yang juga pemilik tempat ini. Aku selalu duduk di meja yang langsung berhadapan dengan si barista. Dari situ aku bisa melihat proses pembuatan kopi dan berbincang dengannya. Setiap aku duduk dan minum kopi di kamis malam pengunjung cukup sepi. Hanya ada satu dua yang duduk di pojokan, rata-rata sendiri, dan berusia lanjut. Selalu ada cerita yang hadir diantara kita berdua. Kadang aku yang bercerita, atau pun sebaliknya. Ia selalu sangat antusias saat aku menceritakan ...

Berdamai dengan Penolakan

Penolakan demi penolakan setidaknya pernah aku alami. Penolakan cinta, penolakan diri, penolakan kerja, penolakan ide, dan beragam penolakan lainnya. Setidaknya penolakan tersebut menjadi jalan hidup lebih 'ramai', panjang dan berkelok-kelok.  Tentu, saat penolakan itu pertama kita terima rasanya tidak mengenakan. Ada rasa jengkel terhadap pihak-pihak yang menolak kita. Ada pula rasa jengkel terhadap diri sendiri yang menyebabkan penolakan itu terjadi. Bahkan kadang dari sati penolakan bisa merembet kepada orang lain yang sebenarnya tak ada sangkut pautnya. Misalnya, saat kita menerima penolajan lantas kita murang-maring, sikap tersebut kadang terbawa kepada interaksi kita dengan orang lain, dan malah menimpakan kekesalan pada orang tersebut. Setidaknya aku oernah berada disituasi seperti itu. Saat aku murang-maring kepada orang lain, maupun saat aku menjadi 'korban' dari orang yang sedang murang-maring.  Untungnya aku merasa bahwa sikap murang-maring itu hanya mengenda...