Posts

Di Bawah Api Membara

DI waktu tertentu, malaikat dan setan melayang-layang di atas sana. Termasuk saat si jago merah melahap habis kayu dan bilik bambu yang disusun rapi membentuk rumah. Malaikat melayang, hanya menonton, tidak ikut memadamkan api. Malaikat justru bersekongkol dengan warga yang berkerumun di bawah. Juga dengan setan yang setia mendampingi Tuan, Puan beserta satu anak yang berbaring di dipan. Seorang Tuan, Puan dan seorang anaknya tinggal di rumah itu bertahun-tahun. Sejak orang-orang yang berkerumun itu belum datang dan sepakat membentuk kampung. Sejak sawah masih terhampar dan hutan masih rimbun. Umurnya mungkin lima puluhan dan si anak mungkin baru dua puluh awal. Tapi fisiknya masih seperti anak kecil, orang-orang menyebutnya laki-laki cebol. Dengan tangan kiri yang lebih panjang dibanding kanan. Kaki yang membentuk huruf “O”. Wajahnya tidak memiliki struktur dasar. Ditambah suaranya yang hemat nyaris tak terdengar. Sejak kecil Arman meringkuk di rumah. Tidak pernah berjalan barang sela...

Kembali Keluarga

Enak juga rasanya melakukan kegiatan yang sama seperti yang kita lihat di gedung tadi.   Pikirku saat duduk di kursi kereta lokal Danbung Raya jurusan Ladaparang. “Kenapa?, kok melamun.” Temanku, Arif, yang sejak pagi bersamaku mengaburkan lamunanku. Ia duduk persis di depanku. Kami duduk di samping jendela. Kursi sebelah kami masing-masing diduduki seorang pedagang cobek yang sedang menghitung uang di tangannya. Sementara di depannya duduk seorang wanita, kira-kira tiga puluh awal, yang terlihat capek setelah bekerja seharian. Stasiun tempat aku turun masih harus melewati 5 perhentian lagi. Danbung, Yirocom, Micindi, Micahi, Badogangkong, sebelum akhirnya tiba di tujuan akhir Stasiun Ladaparang. Kereta Api dengan nomor 515 yang aku naiki ini tiba pukul 17.45 di stasiun akhir. Itu menurut jadwal perjalanan sesuai Grafik Perjalanan Kereta Api tahun 2019.  Sekitar 50 menit lagi dari sekarang. Aku bercerita tentang pertunjukan teater yang tadi kita tonton di Gedung Murentang...

Tuh Lihat

" Tuh lihat, umur 8 tahun sudah hafal 15 juz." Saat aku duduk membaca buki tiba-tiba saja ibiku berkata demikian. Entah kepada siapa perkataannya ditujukan, tapi di ruang itu hanya ada aku dan ibuku. Aku tidak terlalu menanggapinya. Sebab, ini bukan kali pertama ibuku membandingkan anak-anaknya dengan anak lain yang 'pandai'.  Mungkin harapan orang tua adalah melihat anaknya pandai dalam -salah satunya- beragama. Membaca dan menghafal di luar kepalq teks kitab suci diantaranya. Niatnya mungkin baik, agar anaknya termotivasi untuk belajar lebih dalam, dengan mencontohkan anak lain yang sudah 'pandai'. Jika sudah begitu biasanya beragam cara dilakukan, meskipun kadang kontraproduktif. Bukannya memicu motivasi malah menjatuhkan harga diri. Hal yang paling menjengkelkan adalah ketika orang tua berujar A, B, C dan lainnya. Tapi ia tidak melakukan seperti apa yang ia katakan. Seperti ingin memasak nasi goreng, tapi tanpa nasi. Ingin melihat anaknya 'pandai' ...

Masa Depan Hilang?

Aku ingat bagaimana seorang teman bercerita tentang keraguannya menatap masa depan. Dalam pandangannya, masa depan terhalang oleh suatu tembok tinggi, lebar dan besar. Ia tidak bisa melangkah maju ke depan. Yang ia bisa lakukan hanya berada di titik tersebut atau kembali ke belakang. Ia tidak sendiri menatap tembok tersebut. Disampingnya berjejer orang-orang yang –menurutnya- memiliki perasaan yang sama, ragu atas masa depannya. Wajah mereka terlihat murung. Tidak ada garis senyum di wajahnya, barang sedetik pun. Tatapannya kosong, memandang tembok di depannya. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Mungkin cara-cara memanjat tembok atau bisa jadi cara-cara meruntuhkannya. Sebab, pikiran itu pernah ada di otaknya. Ceritanya sudah lama aku dengar. Dulu saat aku berjumpa dengannya dia terlihat seperti orang-orang yang berjejer bersamanya. Murung, kosong, seolah tanpa ada harapan. Aku tidak banyak bicara. Kukira ini waktunya untuk menjadi pendengar yang baik dan saksama. Kini aku bel...

Ihwal Kritik

Demokrasi memberi ruang bagi masyarakat untuk senantiasa menyuarakan aspirasi dan tuntutan. Hal itu menjadi salah satu pilar dalam menjaga demokrasi. Runtuhnya satu pilar akan membawa demokrasi ke jurang otoritarianisme. Sebuah situasi dimana masyarakat tidak berkutik dalam jalannya negara. Semua aspek diatur oleh negara dan kebenaran menjadi produk yang dikeluarkan olehnya. Budaya kritik menjadi jalan dalam tumbuh kembangnya budaya demokrasi. Kritik menjadi indikator dalam melihat hubungan antara rakyat dan penguasa. Kritik menjadi pengurai dari setiap persoalan negara yang tidak bisa dilakukan negara. Atau kritik pun menjadi pengurai atas persoalan yang dibuat dan ditimbulkan oleh negara.  Namun demikian kritik kadang kala dianggap sebagai benalu bagi penguasa beserta gerombolannya. Kritik menjadi sebuah objek yang harus disingkirkan. Dan orang yang mengutarakan kritik menjadi subjek yang perlu untuk dibatasi gerak-geriknya. Pengalaman di masa lalu –seperti Marsinah, Wiji Thukul,...

Mengembalikan Ingatan: Menjadi Bagian Coconut

Berwibawa, gagah, keren, mungkin beberapa alasan sejak SD aku nyemplung menjadi bagian dari gerakan yang dirintis oleh Lord Baden Powell. Orang Inggris yang dianggap pahlawan di negaranya, namun tidak di negara-negara afrika. Di Indonesia gerakan tersebut menjelma bernama Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka). Aku sendiri tidak mengetahui sampai saat ini maksud dari adanya gerakan itu. Meskipun sejak SD aku sudah beberapa kali menjadi Pemimpin Regu, Komandan Peleton, Pratama Putra dan ‘jabatan’ lainnya. Gerakan ini terkenal dengan lambang tunas kelapa nya. Ya, simbol tunas kelapa dipilih sebab ia bisa tumbuh dimana saja dalam kondisi apa saja. Sehingga para pegiat di gerakan ini harus bisa menjadi apa saja, di mana saja, kapan saja, dan bagaimana pun kondisinya ia harus tetap ‘kuat’ seperti tunas kelapa. Sebuah filosofi yang membumi. Setidaknya itu yang aku ingat sampai sekarang. Perjalanan ku berada di lingkaran gerakan ini terus berlanjut hingga SMP. Motivasi makin bertambah tatkala m...

Catatan Perpanjangan

Kalau saja masa berlaku Surat Izin Mengemudi (SIM) tidak lima tahun sekali, maka aku tidak perlu untuk datamg ke Polres. Tapi itu semua tidak ada, aku harus tetap pergi ke polres, selama masih membutuhkan surat yang berbentuk kartu tersebut. Pertama datang dan memarkirkan motor di parkiran polres, seorang bapak sudah menghampiri –sepertinya ia petugas parkir- lantas bertanya “Ada yang bisa dibantu pak? Bikin baru atau perpanjang?” “Perpanjang,” jawabku singkat. Lantas ia pun kembali ke tempat ia duduk semula. Tak berselang lama aku berjalan untuk ‘membeli kertas’. Ya, yang terjadi adalah kita membeli selembar kertas berukuran kurang lebih A5 yang katanya ‘surat dokter’ sebagai bentuk sudah melakukan cek kesehatan. Selembar kertas yang saya kira tidak berguna sama sekali. Tapi yang lebih tidak berguna adalah saya sendiri, sebab masih tetap saja membelinya. Bodoh memang. Setelah kertas seharga 40 ribu tersebut selesai aku dapat, aku kembali ke bagian pendaftaran dan memasukan persyaratan...

Tak Berarti

Kini kau mati dengan seribu ambisi Kepedihan menyelimuti dan mengoyak sanubari Hidup seolah tak berarti semua seakan mati Lalu kau pergi meninggalkan jejak di hati Jejak semakin jelas jiwaku habis terkuras Kau bisa hidup bebas tanpa perlu memelas PDL, 20 April 2020

Mengembalikan Ingatan: Kemanusiaan

Ada hal menarik yang saya dapat setelah membaca buki Berislam dengan Akal Sehat karya Edi AH Iyubenu. Ialah "hukum semua ibadah adalah haram, kecuali ada perintahNya, hukum semua kegiatan kemanusiaan adalah halal, kecuali ada laranganNya" menjadi poin yang cukup berkesan bagi saya. Dari pernyataan itu saya jadi ingat apa yang pernah saya lakukan di masa silam. Dimana kala itu saya memilih untuk ikut diam dalam kegiatan kemanusiaan. Sebab, setiap hal yang saya ikuti harus sesuai dengan 'arahan' ulil amri.  Ya, memang saya pernah 'kecemplung' dalam suatu pemahaman demikian. Pemahaman yang eksklusif yang menganggap semua yang diluar salah dan yang berasal dari dalam benar. Selain beragama secara buta -melalui 'arahan' pemimpin itu- saya pun tidak mencoba untuk menggali hal baru yang berkembang di masyarakat. Doktrin 'dengar dan ikuti apa yang berasal dari dalam' seolah menjadi sekat bagi saya untuk melihat dunia luar. Setidaknya ingatan ini menjad...

Pagebluk

Coronavirus disease 19 (COVID-19)   menjadi momok menakutkan saat ini. Hampir di seluruh dunia sebaran virus ini terjadi. Setiap hari angkanya terus bertambah -kearah yang buruk maupun yang baik- seakan belum menemui titik akhirnya. Memang dibeberapa negara mulai berkurang bahkan angka nya nyaris nol, seperti Tiongkok, Vietnam, Kuba. Tapi mayoritas diseluruh dunia angkanya terus bertambah dan kurvanya semakin curam, Indonesia menjadi negara yang mengalami lonjakan yang cukup drastis dibandingkan negara-negara di ASEAN. COVID-19 ini menjadi pagebluk yang penyebarannya menjadi yang tertinggi, tercepat dan terluas dibanding virus lain yang pernah mewabah. MERS yang pertama kali ditemukan di Arab Saudi tahun 2012, SARS di Tiongkok rahun 2002, bahkan Black Death yang pertama terjadi di eropa abad ke-14 dan menyebar ke seantero dunia merupakan beberapa contoh pagebluk yang pernah terjadi sebelumnya. Perkembangan teknologi mutakhir setidaknya memberi sumbangsih yang begitu besar dalam pe...