Posts

Bersama Orang-Orang Baru

Hari ini hari pertama ku kembali masuk kelas. Setelah sekian lama tidak melaksanakan perkuliahan di dalam kelas. Bedanya, sekarang aku mengikuti kelas bersama adik tingkat. Beda satu tahun antara aku dan mereka.  Karena kurang sks akhirnya aku kembali melakukan kontrkak kuliah dengan menambah mata kuliah. Sebetulnya mata kuliah ini memang belum aku selesaikan. Karena pada suatu waktu aku melewatkan semester pendek. Tadinya akupikir bisa melaksanakan sidang dengan hanya kurang tiga sks dari teman lainnya. Namun, ternyata kurikulim baru merubah syaratnya. Walaupun secara peraturan rektor sks yang telah ku selesaikan memenuhi syarat. Kuliah kali ini dilaksanakan pukul tujuh pagi. Aku harus berangjat sejak jam setengah ebam pagi agar tidak terimbas macet dan tiba tepat waktu. Cukup malas sebenarnya. Mengingat hampir beberapa bulan tidak pergi ke kampus sepagi ini. Terakhir aku ingat pergo kukiah pagi dan semangat-semangatnya iti saat masih menjadi mahasiswa baru. Namun, seiring berjala...

Ngomongin Tuhan Tanpa Ketegangan

Image
Dokumentasi Pribadi Kali ini aku baru selesai membaca sebuah buku yang ditulis oleh dua orang, yakni Sujiwo Tejo dan M. Nursamad Kamba. Judul bukunya cukup 'provokatif': Tuhan Maha Asyik. Ada orang yang mengatakan "Tidak ada asyik dalam 99 nama Tuhan!!!" Ya boleh-boleh saja. Toh, Tuhan pun masih asyik, Ia tidak perlu mendapat 'pembelaan' dari mahkluk-Nya. Disini Tuhan dibicarakan seasyik mungkin, tanpa ketegangan. Tuhan disampaikan melalui kisah-kisah Buchori, Samin, Pangestu, Parwati, Christine, Dharma, Bu Guru, Pak Guru, Orang tua masing-masing, penjual bakso, dan tokoh lainnya. Mereka membicarakan Tuhan seasyik mereka bermain. Setiap kisah memiliki padanan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan. Kisah tersebut menjadi analogi bagaimana pesan inti yang ingin disampaikan. Bukan saja melulu soal doktrin tentang agama. Tapi melebihi itu, melintasi paradigma berpikir yang kebanyakan orang 'beragama' anut. Kisah "Way...

Lupa Melihat Sekitar

Siang itu aku sengaja pergi ke kampus. Hanya mengisi waktu luang saja. Karena sudah beberapa waktu tidak menyambanginya. Mengingat belum ada urusan penting yang harus ku kerjakan dikampus. Karena gabut akhitnya aku kekampus juga. Aku duduk di tempat yang orang-orang bilang Taman Wifi. Meskipun bentukannya tidak sepetti taman pada umumnya. Hanya tersedia meja panjang beserta kursi. Dengan kantin disekelilingnya. Disebut taman wifi karena disitu terdapat wifi, walaupun di tiap gedung pun ada, dan dekat dengan warnet gratis kampus. Tidak banyak agenda yang akan aku lakukan. Hanya membaca buku dan makan siang menjelang sore yang aku bawa dari rumah. Selagi aku membaca aku melihat dikejauhan, diatas jalan, yang terlihat dari tempatku duduk ada seorang bapak memperhatikan terus ke arah tempat ini. Juga seorang ibu, yang nampaknya mereka berdua suami-istri. Aku penasaran apa yang mereka perhatikan. Lantas dibarisan bangku sebrang ada seorang anak yang sedang menjajakan dagangan. Kulihat ia be...

Hadji di Pegunungan Kaukasus

Image
Dokumentasi Pribadi Setelah membaca kisah ini aku tidak begitu antusias. Hal itu tidak lepas dari struktur terjemahan yang dirasa tidak pas saat dibaca. Entah memang karena begitu dari bahasa aslinya, atau memang karena kesalahan redaksi dari penerbit. Buku ini pertama terbit secara sembunyi-sembunyi dalam bahasa Rusia. Sedangkan untuk versi Indonesianya sendiri diterjemahkan dari Bahasa Inggris. Jadi bisa dikatakan terjemahan ini melewati dua proses penerjemahan, dan biasanya menimbulkan bias dalam pemilihan diksi. Secara umum kisah dalam novel ini cukup bisa dipahami. Bagaimana Hadji Murat sebagai tokoh utama disini dikisahkan sebagai tokoh perang yang mahsyur. Namun, saat membacanya aku merasa Hadji Murat ini tidak semahsyur yang digembor-gemborkan di sinopsis maupun pengantar buku. Perannya sedikit teralihkan okeh beberapa tokoh lain, baik dari orang-orang Rusia maupun orang-orang Pegunungan.  Ditambah nama-nama yang disematkan-khususnya nama Rusia-...

Membaca Ular Besi

Hari ini minggu. Dan aku tidak memiliki aktivitas lain selain rebahan dirumah. Setelah mandi sekitar pukul dua siang, aku terpikirkan untuk kakaretaan. Akupun akhirnya memutuskan untuk pergi dengan menggunakan kereta.  Pukul tiga lebih sepuluh sore aku berangkat dari rumah. Karena jarak rumah ke stasiun cukup dekat, aku menjangkaunya dengan jalan kaki. KA dengan nonor 542 rencananya akan aku naiki. Jadwal keberangkatannya yakni pukul 15.35. 15.20 aku sampai di stasiun. Lantas aku membeli tiket kereta dengan tujuan akhir dari kereta ini. Tiketnya hanya lima ribu rupiah. Dengan total perjalanan sekitar dua jam. Aku duduk di gerbong kedua jika dihitung dari belakang. Awalnya biasa saja, tenang. Mengingat gerbong ujung biasanya memang selaku sepi pada awalnya. Tak berselang lama gerombolan remaja nanghung datang dan duduk di belakang kursi tempat aku duduk. Aku tidak ada masalah dengan mereka. Bahkan aku cukup senang karena transportasi umum bisa menjadi andalan bagi siapapun dalam ber...

Dibalik Proposalan

Pagi itu, pukul setengah tujuh aku sudah siap guna pergi ke kampus. Jarak dari rumahku menuju kampus sekitar 17 kilometer jika lewat bawah dan 23 kilometer jika lewat atas. Jalur bawah lebih dekat tapi macet dan waktu yang ditenpuh sedikit lebih lama. Sedangkan jalur atas lebih jauh namun lancar dan bisa memangkas waktu tempuh. Pukul tujuh dua puluh aku tiba dikampus. Tepat di lantai enam salah satu gedung disana. Niat awalnya hendak masuk kelas. Namun aku urungkan karena dosen sudah di dalam. Akhirnya akh mencari tempat lain untuk duduk menunggu teman lainnya. Aku turun ke lantau dua dan duduk disalah satu bangku disana sembari mengisi daya ponsel. Disana aju bertemu dengan teman temabku yang akan bimbingan skripsi. Sekitar pukul sembilan dan sepuluh kedua temabku tiba. Kami bertiga merupakan tjm telat dalam skripsian. Disaat teman seangkatan sudah melakukan sidang priposal sejak september tahun lalu, kami baru akan melaksanakannya sekarang. Mungkin salah satu motto "kalau bisa d...

Pemaknaan Hidup

Image
Dokumentasi Pribadi Aku cukup kaget setelah membaca ini. Walaupun anak judul sudah men- disclaimer bahwa ini kisah tentang kehidupan, tapi aku tak menyangka bahwa berakhir seperti ini. Jostein Gaarder tentunya sudah termahsyur sebagai penulis dengan tema-tema filosofis dalam novelnya. Entah yang secara langsung membahas Filsafat itu sendiri-Dunia Sophie-misalnya. Maupun kisah tentang makna filosofis dari setiap aspek. Kali ini The Orange Girl mengisahkan cerita kehidupan di alam semesta melalui keluarga kecil. Jan Olav, George Roed dan tentunya Si Gadis Jeruk mendapat porsi yang lebih banyaj dalam kisah. Walaupun disana hadir Jorgen, Miriam, kakek dan nenek juga. Kisah tersebut relate dengan pengalaman yang pernah melewati diriku. Suatu ketika aku mencoba untuk mendalami dunia Tashawuf itupun setelah bertemu terlebih dahulu dengan dunia Filsafat , semacam proses menemukan kembali hakikat kehiduoan sebenarnya melalui titik awal konsep kehidupan itu sendiri. Kira-...

Kembali Hujan

Musim penghujan nampaknya belum akan menunjukan gejala tidurnya. Hal tersebut terlihat bagaimana hujan yang masih turun beberapa hari terakhir. Seolah terpola, hujan turun diwaktu sore hingga malam hari. Intensitasnya beragam, kadang deras dan tiba tiba, bisa juga hanya rintik namun dengan waktu yang lama. Hari ini aktifitas keluar dimulai sore hari. Menjelang pukul tiga aku baru melangkahkan kaki keluar untuk bepergian. Kali ini tujuannya entah kemana, hanya akan transit terlebih dahulu di salah satu pangkalan ojek perbatasan kabupaten-kota. Seperti kemarin mobil oranye mengantarku ke tempat transit. Dibawah guyuran hujan deras mobil ini tetap gagah melaju. Cipratan air dipintu samping membasahi sedikit bagian dalam. Seorang bapak yang duduk didepannya sedikit memindahkan posisi pantatnya menjauh dari pintu. Hujan terus turun, hingga pukul lima masih terlihat butiran air itu menghujam bumi. Namun, intensitasnya sudah berkurang, hanya segelintir air hujan yang turun. Mungkin mereka men...

Cerita Saat Hujan Turun

Musim penghujan masih berlangsung, siang ini hujan mengguyur cukup awet, rintiknya masih turun sampai larut malam, walau intensitasnya sudah mereda. Sore itu aku memutuskan untuj tetap berangkat, hujan diluar sudah tak bisa ditunggu keredaannya lebih lama lagi, aku harus tepat waktu menuju lokasi, lokasi yang akan mempertemukan kami. Dengan mobil oranye aku pergi, di dalam sudah ada tiga penumpang yang lebih dulu naik, aku penumpang keempat yg ada disitu, dengan hujan yang masih turun cukup jelas Penumpang pertama seorang tua renta turun dipertigaan dekat underpass, awal tahun ini tempat itu sempat ramai dibicarakan, karena banjir yang terjadi cukup tinggi akibat proyek angkutan masal, hal itu menjadi pemicu makian seorang pejabat yang berkuasa didaerah itu. Mobil yang kunaiki melaju kembali, melewati tempat biasa aku mengolah tubuh, melewati kawasan pergudangan, sampai lampu merah antara jalan arteri dan akses menuju jalan ebas hambatan. Selepas lampu merah pengemudi berhenti sejenak,...

Sungai

Langkah kaki itu semakin kuat, menerjang arus yang begitu dahsyat, yang datang dari hulu sungai, menuju keperkampungan. Dulu sungai itu bersih dan asri, sepanjang alirannya masih ditemui pepohonan, akarnya mengikat kuat tanggul itu, membentang dengan gagah dari hulu ke hilir. Peradaban yang telah berlalu menempatkan sungai sebagai pusat kegiatan, sungai dijaga karena ia sumber penghidupan, namun kini paradigma itu terbalik, sungai menjadi tempat pembuangan. Jika ingin membangun hunian maka mereka akan menghadapkannya muka rumah ke sungai, sungai menjadi penyambut mereka dipagi hari, namun kini hunian dibangun membelakanhi sungai, dan sampah-sampah runah tangga berlomba mencapai sungai sesegera mungkin. Entahlah, kini peradaban terus berubah, bagaimana nasib sungai dimasa depan, apakah akan senantiasa mengalir, atau menjadi kubangan panjang bersama isinya. PDL, 12 Februari 2020